Blog untuk berbagi tentang ilmu di Sekolah Dasar

Showing posts with label Info Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Info Pendidikan. Show all posts
METODE MEMBACA PERMULAAN KELAS RENDAH

METODE MEMBACA PERMULAAN KELAS RENDAH

Membaca merupakan kebutuhan bagi setiap individu yang sangat penting. maka dari itu setiap manusia diharapkan bisa membaca. untuk lancar dan bisa membaca anak sekolah dasar kelas rendah biasanya diajari membaca. metode yang perlu Anda gunakan dalamengajari anak membaca antara lain : Abjad dan bunyi, Global, SAS, dll. apa itu metode?

Metode adalah cara yang telah teratur dan terpilih secara baik untuk mencapai suatu maksud, cara mengajar (Kbb,1984: 649). Sedangkan yang dimaksud dengan membaca permulaan adalah pengajaran membaca awal yang diberikan kepada siswa kelas I (satu) dengan tujuan agar siswa terampil membaca serta mengembangkan pengetahuan bahasa dan keterampilan bahasa guna menghadapi kelas berikutnya.
Dalam pembelajaran membaca permulaan, ada berbagai metode yang dapat dipergunakan, antara lain (1) metode abjad (2) metode bunyi (3) metode kupas rangkai suku kata (4) metode kata lembaga (5) metode global dan (6) metode struktual analitik sinteksis (sas). (Alhkadiah,1992: 32-34).
1.      Metode abjad dan metode bunyi
Menurut Alhkadiah, kedua metode ini sudah sangat tua. Menggunakan kata-kata lepas, misalnya:
Metode abjad              : bo-bo-bobo
La-ri-lari
Metode bunyi              : na-na-nana
Lu-pa-lupa

2.      Metode kupas rangkai suku kata dan metode kata lembaga
Kedua metode ini menggunakan cara mengurai dan merangkaikan. Misalnya:
Metode kupas rangkai suku kata         : ma ta-ma ta
Pa pa-pa pa
Metode kata lembaga                          :   bola-bo-la-b-o-l-a-b-o-l-a-bola
3.      Metode global
“Metode global adalah metode yang melihat segala sesuatu sebagai keseluruhan. Penemu metode ini ialah seorang ahli ilmu jiwa dan ahli pendidikan bangsa Belgia yang bernama Decroly.” Kemudian Depdiknas (2000:6) mendefinisikan bahwa metode global adalah cara belajar membaca kalimat secara utuh. Metode global ini didasarkan pada pendekatan kalimat. Caranya ialah guru mengajarkan membaca dan menulis dengan menampilkan kalimat di bawah gambar. Metode global dapat juga diterapkan dengan kalimat tanpa bantuan gambar. Selanjutnya, siswa menguraikan kalimat menjadi kata, menguraikan kata menjadi suku kata, dan menguraikan suku kata menjadi huruf. Metode global timbul sebagai akibat adanya pengaruh aliran psikologi Gestalt, yang berpendapat bahwa suatu kebulatan atau kesatuan akan lebih bermakna dari pada jumlah bagian-bagiannya.memperkenalkan kepada siswa beberapa kalimat, untuk dibaca.Langkah-langkah penerapan metode global adalah sebagai berikut:
1.      Siswa membaca kalimat dengan bantuan gambar. Jika sudah lancar, siswa membaca tanpa bantuan gambar, misalnya: Ini nani, ini rini, ini nana. 
2.      Menguraikan kalimat dengan kata-kata: /ini/ /nani/
3.      Menguraikan kata-kata menjadi suku kata: i – ni na – ni
4.      Menguraikan suku kata menjadi huruf-huruf,
misalnya: i – n – i - n – a – n – i

4.      Metode sas
Menurut (Supriyadi, 1996: 334-335) pengertian metode SAS adalah suatu pendekatan cerita di sertai dengan gambar yang didalamnya terkandung unsur analitik sintetik. Metode SAS menurut (Djuzak,1996:8) adalah suatu pembelajaran menulis permulaan yang didasarkan atas pendekatan cerita yakni cara memulai mengajar menulis dengan menampil cerita yang diambil dari dialog siswa dan guru atau siswa dengan siswa. Teknik pelaksanaan pembelajaran metode SAS yakni keterampilan menulis kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata dan kartu kalimat, sementara sebagian siswa mencari huruf, suku kata dan kata, guru dan sebagian siswa menempel kata-kata yang tersusun sehingga menjadi kalimat yang berarti (Subana). Proses operasional metode SAS mempunyai langkah-lagkah dengan urutan sebagai berikut:
1.      Struktur yaitu menampilkan keseluruhan.
2.      Analitik yatu melakukan proses penguraian.
3.      Sintetik yaitu melakukan penggalan pada struktur semula.
Metode ini dibagi menjadi 2 tahap, yaitu: (1) tanpa buku (2) menggunakan buku.mengenai itu, momo (1987) mengemukakan beberapa cara yaitu:
1. Tahap tanpa buku, dengan cara:
- Merekam bahasa siswa
- Menampilakan gambar sambil bercerita
- Membaca gambar
- Membaca gambar dengan kartu kalimat
- Membaca kalimat secara struktual (s)
2. Tahap dengan buku, dengan cara:
- Membaca buku pelajaran
- Membaca majalah bergambar
- Membaca bacaan yang disususn oleh guru dan siswa.
- Membaca bacaan yang disusun oleh siswa secara berkelopok.
- Membaca bacaan yang disusun oleh siswa secara individual.
demikian artikel ini, jika anda merasa artikel ini bermanfat silahkan klik share.
Read More
LANGKAH MEMBACA PERMULAAN PADA KELAS RENDAH

LANGKAH MEMBACA PERMULAAN PADA KELAS RENDAH

Anak pada kelas rendah saat ini banyak yang belum bisa membaca, maka dari itu perlu adanya langkah- langkah yang tepat dalamengajari membaca permulaan pada siswa kelas rendah.

Ritawati (1996:51) mengemukakan langkah-langkah membacapermulaan sebagai berikut mengenal unsur kalimatmengenal unsur katamengenal unsur hurufmerangkai huruf menjadi suku katamerangkai suku kata menjadi kataSedangkan menurut Sibarani akhadiah (1992:1993:34) mengemukakan langkah-langkah pengajaran membaca permulaan sebagai berikut menentukan tujuan pokok bahasan yang akan di berikan.
Tujuan ini dapat mengembangkan bahan pengajaran setelah bahan pelajaran dan bahan latihan disusun, kemudian harus memikirkan bagaimana cara menyampaikan. Bagaimana urutan pemberian bahan-bahannya, dan bagaimana cara mengaktifkan siswa.Pada tahap latihan, guru dapat membuat kombinasi baru, baik dengan kata maupun suku kata, dan huruf. Hal ini mudah dilakukan dengan menggunakan kartu-kartu yang tersedia, anak dapat bermain dengan kartu-kartu tersebut. Misalnya membentuk suku kata, kata ataupun kalimat. Untuk memantau apakah anak telah mencapai tujuan yang di tetapkan, guru dapat membuat tes formatif. Dalam hal ini guru dapat menggunakan berbagai cara yang di aggap terbaik untuk kelangsungan pembelajaran. Berdasarkan hal di atas, agar tujuan pengajaran membaca dapat tercapai dengan baik, sebaiknya guru menetapkan langkah-langkah tersebut dilakukan secara berulang-ulang.
demikian artikel ini, jika anda merasa artikel ini bermanfat silahkan klik share.
Read More
TUJUAN MEMBACA PERMULAAN DI KELAS RENDAH

TUJUAN MEMBACA PERMULAAN DI KELAS RENDAH

Anak merupakan anugrah Allah SWT yang perlu dijaga dan di didik dengan sebaik- baiknya. Kita sebagai orangtua harus mempersiapkan pendidikan untuk anak kita dengan sebaik- baiknya. Untuk memperoleh ilmu yang banyak anak harus bisa membaca. pada masa- masa awal biasanya guru memberikan pembelajaran membaca permulaan. apa sebenarnya tujuan membaca permulaan ini. 


Tujuan membaca permulaan tidak terlepas dari tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pengajaran pada khususnya. Tujuan pengajaran membaca permulaan pada dasarnya adalah memberikan bekal pengetahuan dan kemampuan siswa untuk menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik dan benar.

Baca juga : MEMBACA PERMULAAN DI KELAS RENDAH

Menurut Ritawati (1996:43) tujuan pengajaran membaca permulaan adalah “agar siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat. Pengajaran membaca permulaan disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan kejiwaan peserta didik”.

Anak nantinya akan dapat membaca secara lancar, sehingga dia dapat membaca apapun yang ada disekitarnya. dengan begitu anak dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang banyak.

demikian artikel ini, jika anda merasa artikel ini bermanfat silahkan klik share.
Read More
MEMBACA PERMULAAN PADA KELAS RENDAH

MEMBACA PERMULAAN PADA KELAS RENDAH

Membaca merupakan kebutuhan pokok setiap insan manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih banyak lagi. anak usia sekolah rendah sangatlah penting diajari untuk membaca. belajar membaca pada anak sekolah rendah dinamakan membaca permulaan. 

Menurut Ritawati (1996:43) membaca permulaan merupakan membaca awal yang diberikan kepada anak di kelas I (satu) sebagai dasar untuk pelajaran selanjutnya. Seiring dengan itu Sahari (1994:11) mengemukakan membaca adalah kegiatan dalam menerapkan dalam kemampuan berbahasa (linguistik) dengan melibatkan faktor biologis dan psikis yang di pengaruhi oleh lingkungan denagn huruf, suku kata, kata dan kalimat sebagai objek bacaan sebagai tingkatan awal dalam belajar membaca pembelajaran membaca di kelas I (satu) merupakan pelajaran membaca tahap awal. Kemampuan membaca yang di peroleh anak di kelas I (satu) tersebut akan menjadi dasar pembelajaran membaca kelas-kelas berikutnya. Supriyadi (1993) mengemukakan bahwa “ kemampuan membaca yang di peroleh pada membaca permulaan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut”.


Sebagai kemampuan yang mendasari kemampuan berikutnya maka kemampuan membaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian guru, sebab jika dasar itu tidak kuat, pada tahap membaca lanjut anak akan mengalami kesulitan untuk dapat memiliki kemampuan membaca yang memadai.
demikian artikel ini, jika anda merasa artikel ini bermanfat silahkan klik share.
Read More
CARA MENGATASI ANAK SUSAH MEMBACA

CARA MENGATASI ANAK SUSAH MEMBACA

Anak merupakan anugerah yang diberikan oleh Sang Pencipta yang terlahir ke dunia dengan membawa kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Bunda sendiri pasti tahu itu bukan? Namun, ada kalanya kita sendiri jadi cemas bahkan mungkin sedikit emosional disaat si buah hati tercinta cenderung susah membaca dan belajar.
Para orangtua pasti jadi khawatir saat si kecil mengalami kondisi seperti itu, apalagi bagi kita orangtua pendidikan sekarang ini pun sudah menerapkan syarat pintar membaca sebelum masuk sekolah. Namun ternyata susah membaca dan belajar sebenarnya menjadi salah satu gangguan yang sering terjadi ada anak lho Bun.

Di dunia medis anak yang mengalami kesulitan belajar dikenal dengan istilah gangguan disleksia, yang mana gangguan tersebut akan mempengaruhi kemampuan membaca dan mengeja. Apa sih yang menyebabkan anak susah membaca atau disleksia?
Sayangnya sampai sekarang ini belum dapat diketaui penyebab disleksia. Umumnya para pakar kesehatan khususnya anak menyebut jika gangguan disleksia disebabkan oleh faktor genetik yang mengganggu sistem fonologi anak yang merupakan kemampuan dan ketelitian anak. Tapi selain faktor genetik, penyebab anak susah membaca juga disebabkan antara lain:
  • Kekurangan memori verbal
  • Kesulitan untuk memproses informasi
  • Kesulitan untuk mengeja dan mengucapkan kata
Anak yang susah atau bahkan kesulitan membaca memang cukup sering terjadi. Tapi tenang gangguan yang terjadi pada si kecil sama sekali tidak mempengaruhi kecerdasannya. Hanya saja saat si kecil susah membaca kita harus bisa berusaha untuk mengatasinya. Pasalnya meski tergolong ringan dan tidak mengganggu intelejensi anak, hal tersebut juga bisa membawa dampak buruk baginya di masa depan.
Kesulitan membaca yang tidak segera diatasi bukan tidak mungkin akan terus terjadi hingga ia beranjak dewasa. Bahkan hal tersebut bisa membuatnya jadi minder, depresi atau mencari pelampiasan dengan perilaku yang tidak baik. Nah, Bun ini yang perlu dilakukan ketika anak susah membaca.
Kesabaran
Kesabaran adalah hal yang paling mendasar untuk membantu si kecil. Memang kita kadang dibuat jengkel dengan tingkahnya yang sangat sulit untuk menerima apa yang kita ajarkan. Tapi kita sama sekali tidak boleh sampai kehilangan kesabaran, karena emosi justru akan memberikan dampak yang lebih buruk terhadap anak
Jangan Menghukumnya
Kita boleh kecewa saat buah hati tercinta yang selama ini kita banggakan justru mengalami disleksia. Namun kekecewaan tidak boleh menjebak kita sendiri sampai-sampai menghukum si kecil karena ia tidak mampu membaca dan menulis, apalagi sampai memarahi dan meremehkannya di depan orang banyak. Bunda hal tersebut akan sangat merusak mental buah hati kita.
Terus Motivasi
Anak memang masih belum matang secara berpikir, tapi jangan salah Bun anak sudah tahu merasa. Jika semua orang menertawakannya, jika semua orang meremehkannya dan hal tersebut pun terjadi di rumah, kemana lagi dia bisa mendapatkan kebahagiaan?
Bunda, mungkin Bunda merasa malu karena keterbatasan si kecil tapi dengan ikut menertawakannya itu justru akan semakin membunuh dorongan dari dalam dirinya. Teruslah berikan cinta dan teruslah motivasi si kecil hingga ia bisa melewati keterbatasannya.
Lakukan Pendekatan dengan Edukasi Kreatif
Penanganan terbaik bagi anak yang susah membaca ada pada pendekatan edukasi, baik itu di rumah maupun di sekolahnya. Nah, kita bisa membantu anak dengan mengajarkannya untuk mengenali bentuk, sususan atau bahkan suara dari kata-kata. Hal yang paling sederhana adalah dengan mengajak si kecil membaca bersama yang sesuai dengan minatnya, jangan lupa untuk mengajak si kecil ikut berperan dalam bacaan yang dibahas bersama seperti dengan mengajaknya berdiskusi.
Selain itu, mengenali metode belajar yang disuka si kecil juga sangat ampuh untuk membantunya. Misalnya, jika si kecil lebih mudah menyerap pelajaran dengan metode belajar sambil bermain maka berikan itu dengan mengajarkan kombinasi huruf secara perlahan.
Deteksi Sejak Dini
Selain pendekatan secara edukasi, melakukan pendeteksian gejala sejak dini juga sangat baik untuk mengatasi anak yang susah membaca. Hal ini tentu baik agar sedini mungkin kita sudah bisa membantunya. Apa saja gejalanya? Gejala disleksia sendiri berbeda pada balita dan remaja, pasalnya gejala disleksia sendiri cukup sulit untuk dikenal sehingga tak jarang gangguan disleksia baru bisa disadari saat ia beranjak remaja.
Gejala pada Balita
·         Kesulitan saat memproses informasi
·         Sering salah saat membaca
·         Terlalu pelan saat membaca.
·         Sulit mengingat urutan abjad
·         Sulit mengeja
·         Sulit membedakan huruf B dan D
·         Sering terbata-bata saat membaca
·         Sulit membaca kata-kata yang baru
·         Menulis dengan lambat
Gejala pada Remaja
·         Kesulitan membaca
·         Kesulitan mengeja
·         Kesulitan membuat karya tulis
·         Kesulitan memahami maksud dari kalimat orang lain
·         Kesulitan mengatur waktu belajar
·         Kesulitan mengontrol waktu saat mengerjakan tugas
·         Kesulitan mengingat susunan kata atau angka
·         Kesulitan menghitung
·         Cenderung menghindar dengan kegiatan membaca dan menulis saat di sekolah
Untuk menangani anak yang susah belajar dan membaca memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, bahkan bagi para orangtua kita juga harus rela mengorbankan tenaga atau bahkan kadang materi. Tapi semua hal tersebut memang menjadi hal yang dibutuhkan si kecil khususnya saat ia menderita disleksia. Dukungan, bantuan dan motivasi dari orangtua akan sangat membantunya. seperti itulah peran kita sebagai orangtua dalam membesarkan buah hati yang membutuhkan banyak pengorbanan. Tidak hanya waktu, tenaga tapi juga materi.
Nah, Bun semoga informasinya bermanfaat ya 
sumer :TokoDiGi.com


Read More
KESULITAN BELAJAR MEMBACA PADA ANAK (DYSLEXIA)

KESULITAN BELAJAR MEMBACA PADA ANAK (DYSLEXIA)

Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan moment istimewa yang senantiasa menjadi bagian perhatian orang tua. Setiap ada kemampuan baru yang dicapainya merupakan prestasi tak ternilai bagi sang ayah bunda, dan sebaliknya, setiap hambatan dalam tumbuh kembangnya merupakan hal yang sangat merisaukan orang tua. Kemunduran dalam prestasi belajar termasuk salah satu diantara hal yang cukup mengkhawatirkan orang tua, apalagi jika pihak sekolah sudah mulai memberi “peringatan” atau “label-label” tertentu pada sang buah hati. Sayangnya, orang tua dan guru seringkali terlambat mengenali penyebab permasalahan yang dihadapi anak kita, sehingga anak baru dibawa berkonsultasi setelah mengalami gangguan belajar yang sangat mengkhawatirkan bahkan tidak jarang anak sudah terlanjur mengalami stress atau depresi akibat masalah yang dihadapinya tersebut. Oleh karena itu kali ini kita akan bahas salah satu penyebab gangguan belajar (learning disability = LD) yang tersering terjadi, yang kita kenal dengan istilah disleksia.
Disleksia (atau disebut juga sebagai gangguan membaca spesifik) pada anak dilaporkan pertama kali pada tahun 1896 dan merupakan salah satu bentuk gangguan belajar yang paling sering, yaitu mengenai sekitar 80% dari kelompok individu dengan gangguan belajar.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN DISLEKSIA

Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”. Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada anak disleksia ini tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak disleksia biasanya mempunyai level intelegensi yang normal bahkan sebagian diantaranya di atas normal. Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, dan ditandai dengan kesulitan  dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode symbol. Beberapa ahli lain mendefinisikan disleksia sebagai suatu kondisi pemprosesan input/informasi yang berbeda (dari anak normal) yang seringkali ditandai dengan kesulitan dalam membaca, yang dapat mempengaruhi area kognisi seperti daya ingat, kecepatan pemprosesan input, kemampuan pengaturan waktu, aspek koordinasi dan pengendalian gerak. Dapat terjadi kesulitan visual dan fonologis, dan biasanya terdapat perbedaan kemampuan di berbagai aspek perkembangan.
Secara lebih khusus, anak disleksia biasanya mengalami masalah masalah berikut:
1. Masalah fonologi
Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya mereka mengalami kesulitan membedakan ”paku” dengan ”palu”; atau mereka keliru memahami kata kata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ”lima puluh” dengan ”lima belas”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran namun berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.
2. Masalah mengingat perkataan
Kebanyakan anak disleksia mempunyai level intelegensi normal atau di atas normal namun mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan. Mereka mungkin sulit menyebutkan nama teman-temannya dan memilih untuk memanggilnya dengan istilah “temanku di sekolah” atau “temanku yang laki-laki itu”. Mereka mungkin dapat menjelaskan suatu cerita namun tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang sederhana.
3. Masalah penyusunan yang sistematis / sekuensial
Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu atau susunan huruf dan angka. Mereka sering ”lupa” susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung pergi ke tempat latihan sepak bola. Padahal orang tua sudah mengingatkannya bahkan mungkin sudah pula ditulis dalam agenda kegiatannya. Mereka juga mengalami kesulitan yang berhubungan dengan perkiraan terhadap waktu. Misalnya mereka mengalami kesulitan memahami instruksi seperti ini: ”Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45 menit. Sekarang jam 8 pagi. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu Guru akan mengetuk meja satu kali”. Kadang kala mereka pun ”bingung” dengan perhitungan uang yang sederhana, misalnya mereka tidak yakin apakah uangnya cukup untuk membeli sepotong kue atau tidak.
4. Masalah ingatan jangka pendek
Anak disleksia mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya ibu menyuruh anak untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan siang bersama ibu, tapi jangan lupa bawa serta buku PR matematikanya ya”, maka kemungkinan besar anak disleksia tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan ibunya.
5. Masalah pemahaman sintaks
Anak disleksia sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Anak disleksia mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata bahasanya berbeda daripada bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal susunan Diterangkan–Menerangkan (contoh: tas merah), namun dalam bahasa Inggris dikenal susunan Menerangkan-Diterangkan (contoh: red bag).

DISLEKSIA DAN OTAK KITA

Pada tahun 1878 dr. Kussmaul dari Jerman melaporkan adanya seorang lelaki yang mempunyai kecerdasan normal tapi tidak dapat membaca, beliau menamakan keadaan ini sebagai “buta membaca” (reading blindness). Tahun 1891 Dejerine telah melaporkan bahwa proses membaca diatur oleh bagian khusus dari system saraf manusia yaitu di bagian belakang otak.  Pada tahun 1896, British Medical Journal melaporkan artikel dari Dr. Pringle Morgan, mengenai seorang anak laki berusia 14 tahun bernama Percy yang pandai dan mampu menguasai permainan dengan cepat tanpa kekurangan apapun dibandingkan teman temannya yang lain namun Percy tidak mampu mengeja, bahkan mengeja namanya sendiri sebagai “Precy”.
Penelitian terkini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan anatomi antara otak anak disleksia dengan anak normal, yakni di bagian temporal-parietal-oksipitalnya (otak bagian samping dan bagian belakang). Pemeriksaan functional Magnetic Resonance Imaging yang dilakukan untuk memeriksa otak saat dilakukan aktivitas membaca ternyata menunjukkan bahwa aktivitas otak individu disleksia jauh berbeda dengan individu biasa terutama dalam hal pemprosesan input huruf/kata yang dibaca lalu “diterjemahkan” menjadi suatu makna.

BAGAIMANA MENGENALI DISLEKSIA

Berikut ini adalah tanda tanda disleksia yang mungkin dapat dikenali oleh orang tua atau guru:
  • Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya
  • Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay
  • Huruf tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’
  • Membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat misalnya
    • Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”).
    • Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (”menulis” dibaca sebagai ”tulis”)
    • Tdak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai
    • Tertukar tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama)
  • Daya ingat jangka pendek yang buruk
  • Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar
  • Tulisan tangan yang buruk
  • Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung
  • Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek
  • Kesulitan dalam mengingat kata-kata
  • Kesulitan dalam  diskriminasi visual
  • Kesulitan dalam persepsi spatial
  • Kesulitan mengingat nama-nama
  • Kesulitan / lambat mengerjakan PR
  • Kesulitan memahami konsep waktu
  • Kesulitan membedakan huruf vokal dengan konsonan
  • Kebingungan atas konsep alfabet dan simbol
  • Kesulitan mengingat rutinitas aktivitas sehari hari
  • Kesulitan membedakan kanan kiri

DIAGNOSIS

Tidak ada satu jenis tes pun yang khusus atau spesifik untuk menegakkan diagnosis disleksia. Diagnosis disleksia ditegakkan secara klinis berdasarkan cerita dari orang tua, observasi dan tes tes psikometrik yang dilakukan oleh dokter anak atau psikolog. Selain dokter anak dan psikolog, professional lain seyogyanya juga terlibat dalam observasi dan penilaian anak disleksia yaitu dokter saraf anak (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan neurologis), audiologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan pendengaran), opthalmologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan penglihatan), dan tentunya guru sekolah.
Anak disleksia di usia pra sekolah menunjukkan adanya keterlambatan berbahasa atau  mengalami gangguan dalam mempelajari kata-kata yang bunyinya mirip atau salah dalam pelafalan kata-kata, dan mengalami kesulitan untuk mengenali huruf-huruf dalam alphabet, disertai dengan riwayat disleksia dalam keluarga.
Keluhan utama pada anak disleksia di usia sekolah biasanya berhubungan dengan prestasi sekolah, dan biasanya orang tua  ”tidak terima” jika guru melaporkan bahwa penyebab kemunduran prestasinya adalah kesulitan membaca. Kesulitan yang dikeluhkan meliputi kesulitan dalam berbicara dan kesulitan dalam membaca (table 1).
Tabel 1. Pertanda disleksia pada anak usia sekolah dasar
Kesulitan dalam berbicara
Salah pelafalan kata-kata yang panjang
Bicara tidak lancar
Menggunakan kata-kata yang tidak tepat dalam berkomunikasi
Kesulitan dalam membaca
Sangat lambat kemajuannya dalam ketrampilan membaca
Sulit menguasai / membaca kata-kata baru
Kesulitan melafalkan kata kata yang baru dikenal
Kesulitan membaca kata-kata ”kecil” seperti : di, pada, ke
Kesulitan dalam mengerjakan tes pilihan ganda
Kesulitan menyelesaikan tes dalam waktu yang ditentukan
Kesulitan mengeja
Membaca sangat lambat dan melelahkan
Tulisan tangan berantakan
Sulit mempelajari bahasa asing (sebagai bahasa kedua)
Riwayat adanya disleksia pada anggota keluarga lain
Shaywitz S. Overcoming dyslexia. Ney York: Alfred A Knopf, 2003:12-124

JENIS-JENIS DISLEKSIA

Sebagian ahli membagi disleksia sebagai disleksia visual, disleksia auditori dan disleksia kombinasi (visual-auditori). Sebagian ahli lain membagi disleksia berdasarkan apa yang dipersepsi oleh mereka yang mengalaminya yaitu persepsi pembalikan konsep (suatu kata dipersepsi sebagai lawan katanya), persepsi disorientasi vertical atau horizontal (huruf atau kata berpindah tempat dari depan ke belakang atau sebaliknya, dari barisan atas ke barisan bawah dan sebaliknya), persepsi teks terlihat terbalik seperti di dalam cermin, dan persepsi dimana huruf atau kata-kata tertentu jadi seperti “ menghilang”.
Tidak semua anak disleksia menampilkan seluruh tanda / ciri /karakteristik seperti yang disebutkan di atas. Oleh karena itu terdapat gradasi mulai dari disleksia yang bersifat ringan, sedang sampai berat.

SIAPA SAJA YANG DAPAT MENGALAMI DISLEKSIA ?

Siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin, suku bangsa atau latar belakang sosio-ekonomi-pendidikan, bisa mengalami disleksia, namun riwayat keluarga dengan disleksia merupakan faktor risiko terpenting karena 23-65% orang tua dileksia mempunyai anak disleksia juga. Pada awalnya anak lelaki dianggap lebih banyak menyandang disleksia, tapi penelitian-penelitian terkini menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara jumlah laki dan perempuan yang mengalami disleksia. Namun karena sifat perangai laki-laki lebih kentara jika terdapat tingkah laku yang bermasalah, maka sepertinya kasus disleksia pada laki-laki lebih sering dikenali dibandingkan pada perempuan.

BISA SEMBUH ‘GAK…?

Penelitian retrospektif menunjukkan disleksia merupakan suatu keadaan yang menetap dan kronis. ”Ketidak mampuannya” di masa anak yang nampak seperti ”menghilang” atau ”berkurang” di masa dewasa bukanlah karena disleksia nya telah sembuh namun karena individu tersebut berhasil menemukan solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksia nya tersebut.

APA YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK ANAK DISLEKSIA

  • Adanya komunikasi dan pemahaman yang sama mengenai anak disleksia antara orang tua dan guru
  • Anak duduk di barisan paling depan di kelas
  • Guru senantiasa mengawasi/ mendampingi saat anak diberikan tugas, misalnya guru meminta dibuka halaman 15, pastikan anak tidak tertukar dengan membuka halaman lain, misalnya halaman 50
  • Guru dapat memberikan toleransi pada anak disleksia saat menyalin soal di papan tulis sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk menyiapkan latihan (guru dapat memberikan soal dalam bentuk tertulis di kertas)
  • Anak disleksia yang sudah menunjukkan usaha keras untuk berlatih dan belajar harus diberikan penghargaan yang sesuai dan proses belajarnya perlu diseling dengan waktu istirahat yang cukup
  • Melatih anak menulis sambung sambil memperhatikan cara anak duduk dan memegang pensilnya. Tulisan sambung memudahkan murid membedakan antara huruf yang hampir sama misalnya ’b’ dengan ’d’. Murid harus diperlihatkan terlebih dahulu cara menulis huruf sambung karena kemahiran tersebut tidak dapat diperoleh begitu saja. Pembentukan huruf yang betul sangatlah penting dan murid harus dilatih menulis huruf huruf yang hampir sama berulang kali. Misalnya huruf-huruf dengan bentuk bulat: ”g, c, o, d, a, s, q”, bentuk zig zag:”k, v, x, z”, bentuk linear:”J, t, l, u, y, j”, bentuk hampir serupa:”r, n, m, h”
  • Guru dan orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda ketika belajar matematika dengan anak disleksia, kebanyakan mereka lebih senang menggunakan sistem belajar yang praktikal. Selain itu kita perlu menyadari bahwa anak disleksia mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu soal matematika, oleh karena itu tidak bijaksana untuk ”memaksakan” cara penyelesaian yang klasik jika cara tersebut sukar diterima oleh sang anak.
  • Aspek emosi. Anak disleksia dapat menjadi sangat sensitif, terutama jika mereka merasa bahwa mereka berbeda dibanding teman-temannya dan mendapat perlakukan yang berbeda dari gurunya. Lebih buruk lagi jika prestasi akademis mereka menjadi demikian buruk akibat ”perbedaan” yang dimilikinya tersebut. Kondisi ini akan membawa anak menjadi individu dengan ”self-esteem” yang rendah dan tidak percaya diri. Dan jika hal ini tidak segera diatasi akan terus bertambah parah dan menyulitkan proses terapi selanjutnya. Orang tua dan guru seyogyanya adalah orang-orang terdekat yang dapat membangkitkan semangatnya, memberikan motivasi dan mendukung setiap langkah usaha yang diperlihatkan anak disleksia. Jangan sekali sekali membandingkan anak disleksia dengan temannya, atau dengan saudaranya yang tidak disleksia.

Mengingat demikian ”kompleks”nya keadaan disleksia ini, maka sangat disarankan bagi orang tua yang merasa anaknya menunjukkan tanda-tanda seperti tersebut di atas, agar segera membawa anaknya berkonsultasi kepada tenaga medis profesional yang kapabel di bidang tersebut. Karena semakin dini kelainan ini dikenali, semakin ”mudah” pula intervensi yang dapat dilakukan, sehingga anak tidak terlanjur larut dalam kondisi yang lebih parah.
Kristiantini Dewi dr., SpA (Indigrow Child Development Center)
Referensi:
  • J.H. Menkes, H.B. Sarnat B.L. Maria (2005). Learning disabilities, dalam: JH. Menkes, HB. Sarnat (penyunting). Child neurology, edisi ke-7. Lippincott Williams and Wilkins, Philadelphia
  • Sally, Shaywitz, Bennett (2006). Dyslexia, dalam: KF. Swaiman, S. Ashwal, DM. Ferreier (penyunting). Pediatric neurology principles and practice, volume 1, edisi ke-4. Mosby, Philadelphia
  • S. Devaraj, S. Roslan (2006). Apa itu disleksia, panduan untuk ibu bapa, guru dan kaunselor, dalam: S. Amirin (penyunting).  PTS Profesional, Kuala Lumpur
  • G. Reid (2004). Dyslexia: A complete guide for parents. John Wiley and Sons, Ltd, England
  • R. Frank (2002). The secret life of dyslexic child, a practical guide for parents and educators. The Philip Lief Group, Inc, 2002
Read More